
Indonesia Punya Banyak Talent, Tapi Sedikit Product Builder
Indonesia punya banyak orang pintar. Tapi berapa banyak yang benar-benar membangun produk teknologi sendiri?
Kalau makanan kita keluarkan, lalu kriterianya diperketat:
Bukan sekadar menjual barang impor dengan merek Indonesia.
Bukan sekadar menjadi tenaga kerja untuk perusahaan asing.
Yang saya maksud adalah membangun produk atau layanan teknologi sendiri, yang dimiliki, dikembangkan, dan dioperasikan oleh tim di Indonesia.
Menurut saya, jumlahnya masih tipis. Bukan nol: ada Gojek, Tokopedia, dan beberapa lainnya. Tetapi untuk ukuran populasi dan talent pool kita, daftarnya masih terlalu pendek.
Ini bukan soal kekurangan orang pintar.
Masalahnya ada pada perjalanan dari skill ke engineering, lalu ke produk, bisnis, dan akhirnya ke pasar.
Semakin ke kanan, jumlahnya semakin sedikit.
Kenapa?
Menurut pengamatan saya, beberapa penyebabnya:
1. Karier di perusahaan besar atau asing lebih aman dan bergaji pasti, sedangkan membangun produk berarti menanggung risiko.
2. Pendanaan untuk teknologi yang lebih dalam seperti infrastruktur, security, dan enterprise software lebih sulit dibanding bisnis konsumer.
3. Pasar domestik memang besar, tetapi sensitif terhadap harga dan terfragmentasi.
4. Banyak perusahaan dan institusi masih lebih percaya pada merek asing dibanding produk lokal yang belum terbukti.
Lalu, apa yang saya maksud dengan “membangun produk sendiri”?
Tidak harus menciptakan semuanya dari nol. Hampir semua perusahaan teknologi dunia berdiri di atas open source dan teknologi global.
X-code (PT. Teknologi Server Indonesia), misalnya, menggunakan Linux, Docker, Kubernetes, Proxmox, Canonical MicroCloud, Ceph, dan teknologi lainnya untuk membangun layanan sendiri seperti Xcodehoster dan XcodePod.
Teknologinya tidak semuanya lahir di Indonesia. Tetapi engineering, integrasi, infrastruktur, software, operasional, dan layanannya dibangun dan dijalankan oleh tim di indonesia.
Batasnya memang tidak hitam putih.
Bagi saya, ukurannya adalah: siapa yang menguasai teknologinya, siapa yang membangun dan mengoperasikan produknya, dan siapa yang memegang keputusan produk dan bisnisnya.
Indonesia tidak kekurangan talent.
Tantangannya adalah mengubah talent menjadi product builder, bukan sekadar menjadi pengguna, integrator, atau pengemas ulang teknologi yang sudah dibuat orang lain.
Memanfaatkan teknologi yang sudah ada bukan sesuatu yang salah. Justru hampir semua produk teknologi dibangun di atas teknologi dan komponen yang sudah ada.
Namun, di situlah perbedaan levelnya.
Apakah kita hanya bergantung pada teknologi dan infrastruktur milik pihak lain, sehingga ketika terjadi masalah kita hanya bisa menunggu?
Atau kita mampu melakukan engineering, memiliki dan mengendalikan infrastrukturnya sendiri, menciptakan solusi, membangun produk sendiri, dan membuatnya bernilai bagi pengguna?
Dan pada akhirnya, dari sekadar pengguna teknologi dunia menjadi pembuat teknologi dan produk yang digunakan dunia.
Master Kurniawan – masterkurniawan.ceo